The Dream Team Sepanjang Masa

Mei (31 – 2011)

Formasi  : 4 – 3 – 3

Pelatih : Jose Mourinho – Portugal

Ini tetap menjadi pelatih terhebat buat saya setelah Rinus Michels.

 

 

Kiper : Harald Schumacher – Jerman Barat

Dia pernah menabrak dan merontokkan bek Prancis Patrick Battiston dalam suatu perebutan bola. Battiston terkapar tak sadarkan diri dengan dua giginya tanggal, dan sempat di kabarkan kalau Battison meninggal dunia. sedangkan Schumacher lolos dari kartu merah — bahkan wasit tidak menilainya sebagai sebuah pelanggaran. Ini kiper yang sangat dingin.

 

 

 

Bek kanan : Sergio Ramos – Spanyol

Jarang saya melihat bek sekuat ini.

 

 

 

Bek kiri : Roberto Carlos – Brasil

Roberto Carlos tampil di tiga Piala Dunia bersama Brasil. Selain membawa timnya ke final 1998, ia juga menjadi pemain kunci pada saat Brasil menang empat tahun kemudian. Kontribusinya sebagai pengeksekusi tendangan bebas juga tidak bisa diremehkan, termasuk pada 3 Juni 1997, ketika ia mencetak gol dari jarak 35 m saat melawan Prancis.

Di Real Madrid, ia meraih empat gelar juara La Liga, tiga Liga Champions dan dua Piala Intercontinental. Ia juga merupakan salah satu dari enam pemain yang tampil lebih dari seratus kali di Liga Champions. Pele memasukkannya dalam daftar 125 pemain sepakbola terhebat sepanjang masa pada Maret 2004. Ia juga mendapat pengakuan sebagai legenda sepakbola internasional, dengan diberikannya Penghargaan Kaki Emas 2008.

 

 

 

 

Bek kanan tengah :  Franz Beckenbauer – Jerman

Italia boleh saja menyumbangkan banyak nama dalam daftar ini. Tapi, tidak ada yang lebih patut berada di posisi puncak daripada “Sang Kaisar”. Buktinya, banyak pemain yang merasa bangga jika dibandingkan dengannya. Selain seabrek trofi yang dikoleksinya, kejeniusannyalah yang membuat ia menjadi sosok yang susah dilupakan. Sepak terjangnya di lapangan sangat elegan.

Lebih dari itu, ia adalah pemikir ulung yang membawa revolusi di dunia sepakbola dengan menciptakan peran libero menyerang. Sebelumnya, tak seorangpun pernah berpikir bahwa seorang sweeper juga perlu untuk maju untuk membantu penyerangan, apalagi mencetak gol. Beckenbauer menciptakan taktik ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari sepakbola modern.

 

 

 

 

Bek kiri tengah + Gelandang : Paolo Maldini – Italia

ia adalah bek paling berprestasi. Bersama Milan, ia meraih tujuh Scudetto dan lima titel Liga Champions. Sebagai pemain yang paling banyak tampil untuk timnas Italia, Ia juga menjadi langganan tetap gelar pemain terbaik sepanjang karirnya. Tidak kurang dari Lilian Thuram pernah mengakui ingin sepertinya.

 

 

 

 

Sayap Kiri : Cristiano Ronaldo – Portugal

 

Cristiano Ronaldo - Real Madrid CF v Levante UD  - Liga BBVA

Cristiano Ronaldo - Real Madrid CF v Levante UD  - Liga BBVA

Cristiano Ronaldo - Real Madrid v Barcelona - Copa del Rey

Tak usah dijelaskan tentang pemain topskor La liga yang mengalahkan 2 legendanya, dan pencetak hattrick terbanyak didunia ini.

 

 

 

 

Sayap Kanan : Lionel Messi – Argentina

Sulit sekali menghentikan pergerakan si kutu ini, pergerakannya sangat tidak terbaca.

 

 

 

 

Gelandang tengah : Edson Arantes do Nascimento (Pele) – Brasil

Cristiano Ronaldo and Pele - FIFA World Player of the Year Gala

Cristiano Ronaldo and Pele - FIFA World Player of the Year Gala

Kaisar Samba

 

 

 

 

Playmaker : Zinedine Yazid Zidane Z

Sebagai pesepak bola kelas dunia, Zidane telah mengenyam banyak prestasi, diantaranya dua gelar Serie-A bersama Juventus, satu gelar Liga Champions dan satu gelar La Liga bersama Real Madrid. Zidane juga sukses mengantar Perancis menjadi juara dunia Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000. Zidane menjadi pemain sepak bola yang mampu meraih gelar Pemain Terbaik Dunia Fifa sebanyak tiga kali. Ia juga pernah meraih Ballon d’Or di tahun 1998.

 

 

 

 

Penyerang kanan : Diego maradona

Striker  legendaris  yang dikenal dengan Tangan Tuhan ini’ Memang penyerang sejati. Jika mendengar Argentina, saya lebih mengetahui Maradona daripada nama Presidennya.

 

 

 

 

Penyerang Kiri : Santiago Bernabeu

REAL Madrid belum memiliki kebesaran di masa-masa awalnya. Statusnya dianggap setara dengan klub lain macam Barcelona atau Athletic Bilbao. Tapi, begitu memiliki striker bernama Santiago Bernabeu, klub ini makin diperhitungkan. Namanya pun langsung menjulang.

Mengawali karier dengan masuk tim Real Madrid junior pada usia 14 tahun, Bernabeu langsung menonjol. Dia memiliki teknik olah bola yang cukup langka. Bahkan terhitung luar biasa untuk ukuran sepak bola pada akhir abad 18. Pada waktu itu, sepak bola masih kaku. Gocekan tak terlalu dominan. Yang menonjol hanya teknik-teknik dasar seperti menendang, menyundul, dan mengontrol bola.

Santiago Bernabeu agak lain. Dia punya gocekan dan tipuan yang cukup bagus. Selain itu, tendangannya sangat akurat. Gerakan Bernabeu juga dianggap sangat lincah, sehingga dia sulit dikawal lawan.

Itu pula sebabnya, dia langsung diplot sebagai striker. Baru dua tahun lebih di tim junior, dia langsung ditarik ke tim senior pada tahun 1912. Permainannya langsung berpengaruh. Dia hampir selalu mencetak gol di setiap pertandingan. DI musim pertamanya (1912-13) dia sudah membawa Madrid juara kompetisi lokal di Centro.

Kelebihan lain, Bernabeu ternyata sangat karismatik. Dia juga pandai membaca permainan dan punya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Tanpa ragu pelatih Madrid waktu itu, Carcel, langsung menunjuknya sebagai kapten tim. Penunjukkan itu pun tak melahirkan banyak protes, karena Bernabeu memang pantas mendapatkannya.

Seiring dengan kematangan Bernabeu, Madrid juga semakin jaya di kompetisi lokal. Sebagai catatan, waktu itu belum ada kompetisi nasional. Madrid masih bermain di kompetisi Centro. Meski begitu, nama Bernabeu sudah sangat populer.

Apalagi, dia sempat membawa Madrid melakukan hat-trick di Kompetisi Centro pada musim 1921-22, 1922-23, dan 1923-24. Prestasi yang sama terulang kembali pada musim 1921-22, 1922-23, dan 1923-24. Sebelum pensiun pada tahun 1927, dia sempat mempersembahkan gelar yang sama pada musim 1925-26 dan 1926-27.

Tak bisa dipungkiri, serangkaian sukses Madrid itu berkat peran sentral Santiago Bernabeu. Dia tak hanya mampu memimpin rekan-rekannya untuk membangun permainan yang hebat, tapi juga produktif mencetak gol.

Selama 15 tahun membela Madrid, dia sudah mencetak tak kurang dari 1.200 gol. Padahal, waktu itu jumlah kompetisi masih sangat minim. Satu kompetisi juga hanya terdiri dari tak lebih dari 20 pertandingan. Berarti, dia sering mencetak hat-trick dalam pertandingan.

Sayang, waktu itu belum ada Divisi Primera La Liga. Selain itu, dia pensiun di saat Piala Dunia atau kompetisi antarnegara lainnya belum ada. Sehingga, namanya waktu itu tak sempat mendunia. Meski begitu, dia dianggap bintang besar pertama bagi Madrid, yang kelak (sebagai presiden) mendatangkan banyak bintang.

DIGADANG JADI PENGACARA
Terjunnya Bernabeu di dunia sepak bola agak aneh. Dia lahir dan besar di keluarga terpandang. Ayahnya, Jose Bernabeu Ibanez adalah seorang pengacara yang berpraktik di Valencia. Sementara waktu itu, pemain sepak bola biasanya lahir dari kelas buruh.

Ayah Bernabeu sendiri juga tak menginginkan anaknya menjadi pemain sepak bola. Apalagi waktu itu profesi sepak bola belum mendapat penghargaan tinggi. Karena kecerdasannya, sang ayah mengharapkan Bernabeu juga menjadi pengacara seperti dirinya.

Hampir setiap hari Bernabeu Ibanez dan istrinya, Dona Antonia De Yeste Nunez mengarahkan Bernabeu untuk menjadi pengacara. Tapi nasihat kedua orang tuanya itu tak pernah dia gubris. Setiap harinya, Bernabeu justru menjadi anak liar yang aktivitasnya di jalanan.

Bukan menjadi preman jika aktivitasnya lebih banyak di jalan. Tapi, dia bergabung dengan anak-anak lain dari berbagai kelas untuk bermain sepak bola. Kebetulan, teman-temannya seangkatan di sekolahan Augustino juga banyak yang gemar bermain bola.

Bernabeu yakin benar akan pilihannya. Sepak bola adalah kecintaan yang tak bisa dia campakkan. Dia berani menolak keinginan orang tuanya demi sepak bola. Hanya, seusai pensiun dari bola dia akhirnya sekolah juga di jurusan hukum di Institute Cardinal Cisnero, Madrid. Dia punya sertifikat pengacara, tapi tak pernah dimanfaatkannya.

Karena mengawali permainan di jalanan, Bernabeu justru lebih kreatif dan kuat. Begitu direkrut tim junior Madrid, dia langsung menonjol. Bernabeu tak hanya memamerkan stamina yang prima, tapi juga teknik luar biasa. Cukup langka untuk ukuran sepak bola di masa itu.

“Bermain sepak bola sangat menyenangkan bagi saya. Setiap hari saya tak bisa melupakan olahraga ini. Sejak kecil, saya selalu bermimpi bisa bermain untuk Real Madrid. Mimpi itu akhirnya jadi kenyataan,” kata Bernabeu suatu saat.

Mimpi itu tak hanya menjadi kenyataan, tapi Bernabeu sendiri akhirnya menjadi pemain impian Madrid. Dia dianggap bintang besar pertama yang menjadi legenda tak terlupakan. Bahkan saking cintanya warga Madrid terhadap Bernabeu, mereka sampai punya ujar-ujaran: “Kami percaya kepada Tuhan, Real Madrid, dan Santiago Bernabeu.”

Tak berlebihan jika stadion Madrid diberi nama SANTIAGO BERNABEU.
Fakta Bernabeu
Nama lengkap :
 Santiago Bernabeu
Lahir : Albacete (Spanyol), 8 Juni 1895
Posisi : Striker
Nomor kostum : 10
Karier klub : Real Madrid (1912-1927)
Karier timnas : -
Prestasi pemain : Juara kompetisi regional (1912-13, 1915-16, 1916-17, 1917-18, 1919-20, 1921-22, 1922-23, 1923-24, 1925-26, 1926-27), Copa del Rey (1916-17)
Prestasi presiden : Juara Divisi Primera (1953-54, 1954-55, 1956-57, 1957-58, 1960-61, 1961-62, 1962-63, 1963-64, 1964-65, 1966-67, 1967-68, 1968-69, 1971-72, 1974-75, 1975-76, 1977-78), Liga Champions (1955-56, 1956-57, 1957-58, 1958-59, 1959-60, 1965-66 1), Copa del Rey (1945-46, 1946-47, 1961-62, 1969-70 ,1973-74, 1974-75), Piala Interkontinental (1960), Piala Latin (1955, 1956)

Bernabeu’s Milstones
1927 –
 Menyatakan gantung sepatu dalam usia 32 tahun, meski klub berharap dia tetap bermain.

1928 – Ditunjuk sebagai sekretaris klub, tapi tak lama kemudian merangkap juga sebagai direktur teknik menggantikan Don Jose Berraondo.
1935 – Ditunjuk sebagai salah satu direktur klub.

15 September 1943 – Diangkat sebagai presiden Real Madrid menggantikan Antonio Santos Peralda, setelah terjadi kerusuhan pada partai Madrid-Barcelona. Sebagai presiden, dia banyak melakukan perubahan besar. Selain merenovasi stadion, juga menghadirkan pemain hebat seperti Alfredo Di Stefano, Gento, dan Ferenc Puskas. Madrid pun dia bawa pada puncak kebesarannya baik di kompetisi lokal maupun Eropa.

4 Januari 1955 – Atas jasanya membesarkan Madrid, klub memberi penghormatan dengan mengubah nama Stadiom Chamartin menjadi Santiago Bernabeu.

2 Juni 1978 – Dia menghembuskan nafas terakhir karena kanker hati. Posisi presiden Madrid kemudian beralih ke tangan Luis de Carlos.

Dengan bintang seperti ini, tidak mungkin team lain bisa mendapatkan piala. Sayangnya mereka tidak hidup di jaman yang sama dengan berbarengan.

LOS GALACTICOS.

About these ads

4 Komentar on “The Dream Team Sepanjang Masa”

  1. strabener 7 mengatakan:

    yang paling saya respect dari semua legenda di atas adalah zidane.

    http://meinsymbian.wordpress.com/2011/06/07/investigasi-buat-apa-ngeblog/

  2. inthedark666 mengatakan:

    ya dia hebat, saya juga suka pemain ini.

  3. wahyu negara mengatakan:

    jika zidane tidak di kartu merah di final PD 2006 pasti dia jadi pemain terbaik dunia utk yg ke 4 kalinya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.