Tirani

Cinta pun berlalu tapi aku tetap ada”

aku bukan apa-apa’ kecuali malapetaka besar yang akhirnya terendam air mata.

tragedi yang dalam selalu bermain di atas punggung hatiku’

dibebani hari-hari hitam yang akan lebih bercahaya di dalam mimpi yang resah.

aku hanya mampu mengunci lidahku’ mengikat tanganku’ menawan diriku’ tapi tak bisa membendung sebentuk rasa dalam kelopak hati,

yang kerap kali menjatuhkan ketegaran.

dakwaan diam adalah kutukan untuk insan yang melakukan penyerahan yang hina,” hukuman untuku juga.

masa kecil menumbuhkanku menjadi anak periang yang hebat,

tapi masa remaja malah menjadikanku seorang fanatik yang berlebihan, nyaris gila, dan cenderung kearah kerusakan daripada kebaikan.

pertumbuhan sudah menumbangkan secerca nyala di jiwa’

karna cinta tak hangat lagi melainkan membakarku dan menghabiskan lilin-lilin untuk perbekalan esok.

wanita yang kucintai selalu mempermainkan perasaan hati,” awan kasar selalu memperlihatkannya seperti racun dari gelas transparan,

kadang aku sakit sendiri tanpa ada yang menyakitiku,

mungkin lambungku tidak kuat lagi mencerna cinta yang membutakan.
aku meminta pembenaran atas masa lalu dan dasar dari ketenteramanku,

jika tak bisa mencintai lagi’ janganlah menyakiti.

aku yakin suatu nanti kau akan sadar’ karna aku pernah sepertimu.

hal yang sanggup melupakanmu sejenak adalah ketika aku membaca puisi untuk membahas diriku sendiri’

laksana dupa dihadapan ajal, yang mengingatkan cara bernafas’ diantara kiblat dan tuhan bagi umat islam, yaitu tuhanku.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s