Paint It Black

[The Rolling Stones]

I see a red door and I want it painted black
No colors anymore I want them to turn black
I see the girls walk by dressed in their summer clothes
I have to turn my head until my darkness goes
I see a line of cars and theyre all painted black
With flowers and my love both never to come back
I see people turn their heads and quickly look away
Like a new born baby it just happens evry day
I look inside myself and see my heart is black
I see my red door and it has been painted black
Maybe then Ill fade away and not have to face the facts
Its not easy facin up when your whole world is black

No more will my green sea go turn a deeper blue
I could not foresee this thing happening to you
If I look hard enough into the settin sun
My love will laugh with me before the mornin comes

I see a red door and I want it painted black
No colors anymore I want them to turn black
I see the girls walk by dressed in their summer clothes
I have to turn my head until my darkness goes
Hmm, hmm, hmm,…
I wanna see it painted, painted black
Black as night, black as coal
I wanna see the sun blotted out from the sky
I wanna see it painted, painted, painted, painted black
Yeah!

 

 

Unsur-unsur:
Aktor di dalam lagu ini, menurut saya adalah seseorang yang menghadapi perasaan sedih dan marah terhadap suatu hal (di dalam lagu ini digambarkan mungkin akibat berakhirnya hubungan aktor dengan pacar). Perasaan yang dialami sedemikian hebatnya sehingga ia mempersepsikan semua hal menjadi berwarna hitam. Ia bahkan menolak warna-warna lain yang lebih bersifat cerah (merah di pintu, warna baju gadis di musim panas, No colors anymore I want them to turn black) dan kalau ia bisa, ia ingin meniadakan warna-warna cerah tersebut untuk kemudian menggantinya dengan warna hitam pekat.

Kemudian, masih di dalam lirik pertama, kelihatannya orang ini tidak mendapatkan dukungan moral dari sekitarnya untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya. Akibatnya, perasaan sedih dan marah ini berkepanjangan dan menggerogoti dirinya (I look inside myself and see my heart is black). Bahkan pintu yang tadinya berwarna merah dipersepsikan telah menghitam dengan sendirinya. Tokoh utama semakin terjerumus ke dalam perasaan negatif yang dialaminya dan menolak untuk menghadapi kenyataan karena dalam tahap seperti ini, sangat tidak mudah untuk bangkit.

Archetype
Saya merasa bahwa tokoh ini memiliki arketipe seeker. Cara pandangnya terhadap permasalahnnya tergolong unik dan eksentrik yaitu dengan pewarnaan yang melambangkan suasana hatinya. Persepsinya terhadap perasaan dirinya dan sekitarnya juga terlukis dengan keinginan untuk mengubah semua jenis warna menjadi hitam. Pendekatan penyelesaian masalah dari sang tokoh mirip adalah pelarian dari masalah, seperti arketipe seeker. Namun, sayangnya pencarian sang tokoh atas alternatif pemecahan masalah rupanya tidak berhasil, dan ia larut dalam perasaannya.

Proses “tenggelamnya” sang tokoh membawanya ke arketipe destroyer, dimana ia justru merasa lebih baik ketika semua warna benar-benar telah menjadi hitam dan tidak ada seorangpun yang peduli, terlebih ketika ia mendapati bahwa dirinya juga telah menjadi “hitam”. Ia mengalami sebuah proses penghancuran terhadap kondisi emosionalnya sendiri tanpa membiarkan dirinya tumbuh kembali (reborn)menjadi sebuah entitas baru yang mampu menghadapi masalahnya secara tepat. Kurangnya self control mengakibatkan hasil akhir yang sungguh bias dan tragis, sang tokoh menjadikan dirinya untuk tidak mengetahui warna-warna lain selain warna hitam.

Refleksi
Secara pribadi, warna hitam di dalam lagu ini memiliki banyak sekali makna. Terlepas dari multipersepsi kita masing-masing terhadap warna hitam, ada dua unsur yang ingin disampaikan oleh lagu diatas. Unsur pertama yaitu bagaimana sang tokoh menginginkan seluruh dunianya untuk “dicat hitam” dan kedua, adalah bagaimana reaksi sang tokoh saat dunianya telah benar-benar “dicat hitam”.

Kembali ke persepsi tentang warna, menurut saya, warna hitam disini terkait dengan emosi-emosi negatif yang pasti pernah kita alami sebelumnya. Emosi-emosi ini nantinya secara sadar maupun tidak sadar pasti akan kita proyeksikan baik ke dalam diri sendiri ataupun ke lingkungan/orang lain. Apabila kita memproyeksikannya ke dalam diri dengan baik, maka mungkin akan tumbuh rasa optimisme dan kemampuan untuk memandang masalah dari sudut lain/warna lain. Warna inilah yang nantinya akan menentukan reaksi lingkungan terhadap diri kita. Namun sebaliknya, apabila kita memproyeksikannya dengan buruk, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa segala sesuatunya akan menjadi “sehitam yang kita bayangkan”. Pekat tanpa warna-warna yang cerah.

Saya juga tidak jarang mengalami kejadian-kejadian yang sering membuat saya “think black”. Penyergapan oleh emosi negatif cukup untuk membuat saya tidak dapat berpikir jernih. Bahkan mungkin dari berbagai emosi negatif tadi, saya tidak ingin memikirkan hal-hal lain selain emosi negatif saya, penyebab emosi tersebut muncul, dan bahkan saya bisa menyalahkan lingkungan atas kejadian yang menimpa diri saya.

Menurut saya wajar-wajar saja memiliki emosi negatif. Tidak ada manusia yang hanya memiliki emosi positif saja. Sekarang pilihannya berarti ada tiga. Mau terus-terusan memelihara emosi negatif atau berusaha kembali untuk berpijak pada kedua kaki yang masih berjalan ini? Pilihan ketiga, terkadang saya juga berpikir lebih enak melarikan diri dari masalah. Namun setelah saya pikir-pikir lagi, kita tidak bisa selamanya berlari. Masalah diciptakan bukan untuk itu. Apabila saya mendengar lagu ini, ada pengertian untuk bangkit dan berdiri menghadapi masalah sebelum kita dikonsumsi oleh emosi negatif itu sendiri dan semuanya menjadi terlambat.

Dengan kata lain, setelah mencerna lirik lagu ini, ada transformasi dari arketipe seeker menuju destroyer, namun diakhiri dengan proses kelahiran jiwa baru yang lebih kokoh melalui arketipe warrior. Di dalam arketipe ini, ada kesadaran untuk bergelut dengan masalah dan menemukan jalan keluarnya. Boleh-boleh saja memelihara emosi negatif, tetapi hendaknya jangan sampai hal itu mempengaruhi lingkungan dan menghancurkan kehidupan kita. Untuk mengalahkan masalah, kita harus melawan musuh terbesar kita: persepsi terhadap diri sendiri.

Dari lagu ini kita bisa belajar tentang persepsi terhadap sebuah masalah melalui warna hitam. Namun, warna tetaplah warna. Ada persepsi masing-masing terhadap hal tersebut. Jadi, warna apakah anda?

 

Video Lagunya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s